LPM Nagari Lubuk Alung

Lb. Alung – Perlahan tapi pasti, pemerintah Nagari Lubuk Alung terus melakukan program program pembangunan. Tak hanya membenahi sarana fisik, tetapi juga melakukan pemberdayaan masyarakat dari berbagai sisi sesuai potensi masing masing daerah. Untuk mendapatkan kondisi riil di masyarakat, maka berbagai komponen yang ada harus mampu memahami kondisi lapangan.

“Salah satu yang kita dorong adalah bagaimana lembaga yang ada hadir di tengah masyarakat, karena membangun nagari tak bisa oleh wali nagari atau jajarannya saja. Peran lembaga kemasyarakatan perlu terus disorong,” ujar Hilman H , Wali nagari Lubuk Alung Minggu (05-05-2019)

Sebagai mantan tenaga pendamping desa/nagari, Hilman yang juga ketua forum wali nagari se Kecamatan Lubuk Alung (sembilan nagari) mengakui bahwa peran seluruh lembaga kemasyarakatan, komponen komponen di nagari perlu dimaksimalkan. Terutama dalam menumbuhkembangkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

“Alhamdulillah dari segi nominal anggaran nagari Lubuk Alung cukup besar, yakni dua miliar lebih. Besarnya angka ini akan efektif dan tepat sasaran apabila program program yang dilakukan benar benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Jika itu terjadi maka masyarakat akan merasakan arti pembangunan serta sama sama menjaga pembangunan tersebut,” terangnya.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Lubuk Alung Sukri Umar menyikapi harapan wali nagari tersebut dengan memghadirkan LPM di tengah tengah masyarakat. Untuk mendapatkan informasi riil daerah sebagai bahan untuk pemberdayaan, pihaknya membuat program pertemuan rutin LPM dengan komponen masyarakat di lapangan.

“Kita rapat di lapau (kedai kopi). Lapau bukan sekadar tempat minum biasa, di nagari nagari lapau berfungsi sebagai tempat berkumpul, berkomunikasi dan berbagi informasi. Agar tidak sekadar ota lapau, pertemuan sedikit diformalkan dengan catatan pertemuan. Apa aspirasi yang berkembang, itu menjadi bahan untuk pembangunan nagari ke depan. Artinya saat Musrenbang Nagari, tak ada lagi perdebatan mencolok antar korong,” ujar wartwan salah satu media terbesar di Sumatera Barat ini.

Akhir pekan lalu LPM melakukan pertemuan di salah satu lapau di Korong Surantiah, daerah yang sempat “dihondoh galodo: beberapa tahun lalu. Meski tak membawa korban jiwa, namun ratusan juta kerugian yang diakibatkan bencana tetsebut. Salah satunya hamparan lahan pertanian produktif yang gagal panen.

Kini katanya, seperti dikemukakan Walikorong Surantiah  Nasril. Dihadiri pemuka masyarakat antara lain Dt Tianso, anggota Banmus Abrizaldi, kapalo mudo, ketua pemuda dan pengurus kelompok tani, Nasril menyampaikan tentang kondisi daerah mereka masih minim sentuhan pembangunan di segala lini.

Jalan masih jauh dari sentuhan aspal, sumber air bersih yang sulit didapat. Padahal kawasan yang memiliki sumber daya alam memadai tersebut, memiliki sumber mata air perbukitan yang bisa dialiri ke kawasan penduduk, bahkan sebagai sumber pengairan sawah.

Redaksi#Nagari Lubuk Alung #Sukri Umar #Hilman H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *